
Spensapa – Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni. Sejarah hari penting ini telah ditetapkan sejak tahun 1945. Pada tanggal 1 Juni 1945 ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Lahir Pancasila melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016.
Pidato Soekarno Hari Lahir Pancasila
Dilansir dari buku Sejarah dan Budaya Politik (2002) karya Satya, Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengadakan sidang pertama dari 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Rapat tersebut dilakukan di gedung Chuo Sangi In yang sekarang dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung itu digunakan sebagai gedung Volksraaf atau Perwakilan Rakyat. Rapat tersebut tidak menemukan titik terang. Soekarno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasan pada 1 Juni 1945. Gagasan yang disampaikan Soekarno tentang dasar negara Indonesia merdeka, dinamakan Pancasila.
Penetapan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni
Dilansir dari Historia, Presiden Soekarno menuntut diadakannya acara peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1964. Hal ini karena beberapa orang mulai menyelewengkan Pancasila. Saat itu tepat hari ulang tahun ke-19 Pancasila. Hari Lahir Pancasila diperingati untuk pertama kalinya dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka. Pancasila Sepanjang Masa menjadi slogan. Dikesempatan itu, Soekarno menguraikan kembali rumusan Pancasila berikut kelima silanya. Kemudian, peringatan Hari Lahir Pancasila kemudian dilaksanakan setiap tahun, setiap tanggal 1 Juni. Terakhir Soekarno memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1966.
Setelah itu, masa rezim Orde Baru tepatnya pada 17 September 1966 Menteri atau Panglima Angkatan Darat Jenderal TNI Soeharto kemudian menetapakan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hal tersebut untuk memperingati keberhasilan Soeharto menggagalkan upaya kudeta 1965. Soeharto sempat memperingati Hari Lahir Pancasila pda tahun 1967 dan 1968. Namun, sebagai upaya penghapusan warusan Soekarno, melalui Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) melarang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni mulai tahun 1970. Pada 1 Juni 2016 Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Lalu mulai tahun 2017, setiap 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional atau tanggal merah untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.
Wasiat Bung Hatta
Cerita mengenai pidato Soekarno yang menjadi ide utama kelahiran Pancasila itu juga diceritakan dalam wasiat Mohammad Hatta. Mohammad Hatta, negarawan sekaligus Wakil Presiden Indonesia pertama, mengungkap sejarah Hari Lahir Pancasila dalam wasiatnya yang ditujukan kepada Guntur Soekarnoputra, putra pertama Soekarno dan Fatmawati.
Dalam wasiat yang ditandatangani pada 16 Juni 1978 tersebut, Bung Hatta memulai dengan cerita ketika dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ketua Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mempertanyakan dasar negara Indonesia. “Dekat pada akhir bulan Mei 1945, dr. Radjiman, ketua Panitia Penyelidikan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia, membuka sidang Panitia itu dengan mengemukakan pertanyaan kepada rapat: “Negara Indonesia merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya?” tulis Bung Hatta dalam dokumen yang dikirim ke Guntur yang dipublikasikan di Kompas, 15 Maret 1980. Saat itu, kebanyakan anggota rapat tidak mau menjawab pertanyaan dr. Radjiman karena takut menimbulkan persoalan filosofi yang berkepanjangan. Namun, Soekarno menjawab pertanyaan tersebut dengan menyampaikan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno ini mengemukakan Pancasila yang memuat lima sila sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka. Bung Hatta mengatakan, pidato Bung Karno menarik perhatian para anggota panitia dan disambut dengan tepuk tangan yang riuh. “Sesudah itu sidang mengangkat suatu Panitia Kecil untuk merumuskan kembali Pancasila yang diucapkan Bung Karno,” tulis Bung Hatta.
Adapun Panitia Kecil tersebut terdiri dari 9 orang, yakni Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Kemudian, 9 panitia ini mengubah susunan Pancasila dan menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Sila kedua, yang dalam rumusan Bung Karno disebut Internasionalisme atau perikemanusiaan diganti dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ketiga, sila Kebangsaan Indonesia diganti dengan Persatuan Indonesia. Sila keempat, Mufakat atau Demokrasi diganti dengan sila Kerakyatan. Terakhir, sila kelima yang oleh rumusan Bung Karno disebut Keadilan Sosial diganti dengan sila Kesejahteraan Sosial. Baca juga: Makna Simbol Pancasila, Sila Pertama hingga Kelima Perubahan rumusan Pancasila oleh Panitia 9 ini diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945 dan diberi nama “Piagam Jakarta”. Kemudian, “Piagam Jakarta” dijadikan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sehingga Pancasila dan UUD menjadi dokumen negara pokok. “Pancasila dan Undang-Undang Dasar yang sudah menjadi satu Dokumen Negara itu diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan”. Sedikit perubahan yang dimaksud Bung Hatta adalah menghilangkan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi penduduknya” pada sila pertama Pancasila. “Sungguhpun 7 perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja. Pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia Timur berkeberatan kalau 7 kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok daripada pokok dasar Negara kita sehingga menimbulkan kesan, seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam”. Berdasarkan kesaksian Bung Hatta yang dituangkan dalam wasiat ini, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila karena pada tanggal tersebut Bung Karno pertama kali mencetuskan Pancasila dalam pidatonya. https://www.kompas.com/sains/read/2022/06/01/113100823/sejarah-hari-lahir-pancasila-dan-penetapan-tanggal-merah-tiap-1-juni?page=all.








Spensapa(21/05/2022). SBY panggilan akrab dari Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan pulang kampung ke Pacitan. Orang asli kelahiran Pacitan yang pernah menjabat sebagai Presiden Repubik Indonesia (RI) ke -6 ini tiba di Pacitan, Jawa Timur,13/05. SBY tiba sekitar pukul 18.30 WIB melalui jalur darat, dari bandara Internasional Adi Sumarmo, Solo dan langsung menuju Wisma Drupadi yang berada satu komplek dengan Museum dan Galeri Seni SBY ANI di Kel. Ploso Pacitan. Dikutip dari www.pacitankab.go.id, SBY berencana tinggal di Pacitan sampai 23 mei 2022. Dari beberapa yang diagendakan SBY yakni Meninjau secara langsung pembangunan Museum dan Galeri Seni SBY ANI, menikmati menu makanan khas Pacitan di pasar Minulyo, Rabu (18/05) malam. Dan agenda puncaknya yang sekarang ini berlangsung, menggambar bersama pelajar SD, SMP dan SMA/SMK Pacitan di pantai Pancer Door, Sabtu (21/05). Dari hari rabu (18/05) masing-masing sekolah sudah dilakukan technical meeting oleh panitia kepada perwakilan sekolah. Technical meeting seperti pembagian area per sekolah, area menggambar khusus dengan SBY yang diikuti pelajar pilihan, area parkir pelajar dsb. “Untuk kegiatan di Pancer Door, siswa Spensapa sudah kita breafing secara internal hari kamis kemarin. Kita kumpulkan 200 pelajar Spensapa yang nantinya akan mewakili sekolah kita untuk kegiatan menggambar. Kita berikan informasi terkait untuk pelaksanaanya, apa saja yang dibawa dan pastinya yang tidak boleh kita bawa atau lakukan disana. Semua demi menjaga kondisi dan situasi agar siswa senantiasa tertib”. papar Yoyok Subiyantoyo, S.Pd Kaur Kesiswaan sekolah.


Spensapa (09/05/2020). Alhadulillah telah sebulan penuh kita sebagai umat Islam menjalankan ibadah Ramadhan 1443H dengan penuh keceriaan, kebahagiaan dan rasa kebersamaan. Hingga saatnya hari kemenangan pun tiba, tanggal 1 Syawal sebagai penentunya. Idul Fitri sebagai hari penuh makna dimana kita saling bersilaturahmi, membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk saling bermaaf-maafan. Dua minggu lebih siswa siswi dan guru di Indonesia menikmati libur bulan Ramadhan dan libur hari raya Idul Fitri. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama (Menag), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB) Nomor 375 Tahun 2022, Nomor 1 Tahun 2022, Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perubahan Atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menteri PANRB Nomor 963 Tahun 2021, Nomor 3 Tahun 2021, Nomor 4 Tahun 2021 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2022. Sesuai isi dapipada SKB tanggal 9 Mei 2022 siswa masuk sekolah kembali, begitu pula dengan ASN baik Guru dan Staf juga masuk kerja seperti biasa. Nah di hari pertama masuk sekolah, ada tradisi dari dulu hingga sekarang yang masih dipertahankan yakni, Halal Bihalal. Sekedar info saja Halal bihalal adalah salah satu tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Tradisi ini biasa dilakukan pasca Lebaran, tepatnya di bulan Syawal. Tradisi halal bihalal menjadi kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan saling memaafkan. Halal Bihalal disekolah biasanya dimulai setelah acara Apel selesai. Halal bihalal dilaksanakan di halaman sekolah yang juga digunakan untuk Apel. Seyogyanya dikegiatan ini semua siswa dapat berjabat tangan, bermaaf maafan dengan Kepala sekolah, Guru dan Staf. Tetapi untuk tahun ini tidak semua siswa dapat berjabat tangan. Melainkan, diwakili oleh Ketua kelas disetiap masing-masing kelas dan tingkat. “Iya memang benar untuk tahun ini masih menerapkan protokol kesehatan walau tidak seketat tahun kemarin. Disamping itu untuk men-effektifkan waktu sehingga para siswa bisa langsung mengikuti kegiatan belajar tanpa berlama-lama dihalaman sekolah. Toh semua siswa juga sudah mengikuti ikrar untuk saling bermaaf-maafan jadi kalaupun diwakili ketua kelas saya rasa sudah bisa mewakili yang lainnya. Kegiatan Halal bihalal siswa dipersingkat memang ada kegiatan Halal bihalal khusus keluarga besar SMP Negeri 1 Pacitan bersama para Purna Guru Staf Spensapa.” terang Anjar Subiyantoyo, S.Pd selaku Kaur Kesiswaan. “Jiwa-jiwa kembali putih seakan terlahir kembali. Jutaan syukur menggema di langit Ilahi. Semoga kemenangan ini menjadi kemenangan yang hakiki. Selamat Idul Fitri 1444 H. Mohon maaf lahir dan batin”. dikutip dari pidato Kepala SMP Negeri 1 Pacitan, Any Suprapno, S.Pd.,MM.






