PESAN TERAKHIR
Karya : Haryas Subyantara Wicaksana
Aku termenung. Kerapkali membisu. Hari-hariku kian lama, terasa kian sepi. Seluruh tangkai anganku seakan terkubur keji. Hampa tak berarti. Aku sedih . Ringkih menghadapi cobaan ini yang menghantamku bagai gelombang. Mengombang-ambingkan alur hidupku. Sejak lahir tak lagi kurasakan lembut kasih seorang ibu. Beliau meninggal tepat saat aku dilahirkan. Sejak saat itu bapak berperan sebagai seorang ibu, sekaligus imam dalam keluargaku. Hingga aku duduk bangku SMP. Tapi belum lama kebahagiaan yang kuenyam bersama bapak, beberapa bulan yang lalu, tanpa jelas sebab-musababnya, tiba-tiba bapak menyusul ibu ke alam baka. Sarjono. Nama bapak tertera dalam batu nisannya.
Kala itu, jenazahnya diketemukan di tepi laut Pancer Etan. Kudengar desas-desus para warga di kampung nelayan ini, bapak meninggal karena tenggelam. Kata mereka, bapak menjadi tumbal Ratu Pantai Selatan. Bahkan sesepuh yang sudah lama tinggal di sini pun berkata serupa. Ah, tetap saja aku belum percaya akan desas-desus mereka. Menurutku, kematian bapak masih menjadi suatu misteri.
Semasa hidupnya, bapak pernah menjadi murid kakekku-guru kerawitan yang mumpuni di suatu perguruan. Hingga beliau diwarisi sanggar kerawitan “Laskar Setro Ketipo”. Bapak meninggal di sekitar sanggarnya yang hampir tak berjarak dengan tepi laut Pancer Etan. Aku ingat beberapa hari sebelum kepergiannya, bapak sempat memanggilku ke sana. Saat itu beliau terlihat sedang memainkan bonang kesayangannya. Sembari menembangkan gendhing-gendhing wejangan Sunan Bonang yang amat disukainya. Segera aku menghampirinya.
“Salatullah salamullah ’ala thaha rasulillah………’ala yasin habibillah.”
“Wah, terasa syahdu di dada ini, mendengar tembang itu, Pak.”
Bapak hanya tersenyum. Senyum yang selalu terkenang dalam benakku. Memandangku penuh kasih sayang, dan beliau memainkan bonang itu dengan semakin mantap.
”Le, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu.”
”Nggih Pak, ada apa ?”
”Jika kelak aku sudah tiada, aku kepingin, kamu tetap melestarikan sanggar kerawitan ini. Aku simpan kuncinya dalam sebuah kotak di laci di kamarku.”
Saat itu aku belum berpikir seberapa jauh tentang pesan bapak. Kupikir itu hanyalah angan-angan bapak di masa depan. Aku tak menyangka bila semua itu adalah bagian dari sebuah firasat. Bapak pergi begitu saja secara tiba-tiba. Secepat ini takdir menggariskan batas hidupnya. Sedangkan aku yang belia belum sanggup menghadapi ujian hidup ini. Sesekali, kulihat foto bapak yang terpampang di dinding kamar. Tepat di depanku. Begitu hening aku memandanginya.
”Ya Allah, aku berharap bapak dan ibu tersenyum tentram di alam sana. Tanpa ada goresan nestapa yang kejam. Tanpa ada dendam yang tertutur suram. Tanpa ada beban yang berat menekan di lubuk kalbunya yang terdalam. Amin !”doaku dalam hati.
Lembayung sore telah beristirahat di pangkuan langit malam. Kuingin berdikari dari rasa sunyi di kamar usang ini. Kuberanikan diri untuk menjalankan pesan bapak. Kutarik pegangan laci itu. Jantungku berdegup kencang. Urat jariku bergetar. Tanganku gemetaran. Laci itu pun terbuka. Terlihat sebuah kotak kecil. Aku yakin benda inilah yang dimaksudkan bapak. Menerka keberadaan kotak yang seolah tak terdefinisi ini. Apakah yang tersimpan di dalamnya? Mungkinkah kotak ini memberi jawaban akan misteri kematian bapak? Lantas, kuambil kotak itu. Kusisipkan di kantongku.
Aku melangkah ke teras. Hatiku kian berkecamuk. Pikiranku kian menggeliat. Aku memandang jauh ke depan. Dadaku masih berdebar. Entahlah. Barangkali karena kotak ini. Ataukah sebuah keyakinan bahwa kotak ini akan memberi kepastian akan penyebab kematian bapak.
”Le, sudah cukup melamunnya.” tiba – tiba terdengar suara yang membangunkan lamunanku.
”Eh, Pak Karmin. Monggo pinarak, Pak.”sahutku.
”Akhir-akhir ini, kamu kok terlihat bersedih terus to,Le. Kenapa?”
”Ndak, Pak. Hanya saja, aku belum bisa melepas kepergian bapak.”
”Sudahlah, Le. Tidak baik terus-terusan bersedih begini. Anggap saja aku pengganti bapakmu. Dia memang seorang yang amat baik. Aku tahu karena bapakmu adalah kakak seperguruanku. Dulu, di sini, hampir setiap hari kami ngobrol. Dia sudah kuanggap kakak sendiri.”
”Tetapi hal itu masih terlalu berat bagiku, Pak.”
”Sudahlah, ikhlaskan saja kepergian bapakmu. Mencobalah untuk tabah dan tawakal. Usiamu sangat muda. Masa depanmu masih panjang. Ini waktu bagimu untuk menghibur diri. Bagaimana jika kau ikut bersamaku ke luar sana?”
”Memangnya kemana Pak malam-malam begini ?”
”Kita kunjungi sanggar bapakmu.Mungkin rasa sedihmu akan sedikit terobati di sana.”
“Pak,bukankah tidak baik untuk keluar malam di daerah sini? Apalagi malam ini adalah Selasa Kliwon. Malam yang amat sakral. Sebagaimana yang sudah diyakini masyarakat setempat, bahwa Ratu Pantai Selatan sedang mencari tumbal.”jelasku pada Pak Karmín.
” Kamu tenang saja. Aku sudah punya penangkal kain kafan di sakuku.”bisiknya lirih seolah menyembunyikan sesuatu.
”Apa? Penangkal? Jadi Pak Karmin yakin mampu melawan Ratu Pantai Selatan? Tapi kenapa bapak bisa menjadi tumbal seperti yang didesas-desuskan warga. Padahal, bapak adalah kakak seperguruan Pak Karmin. Kenapa Pak Karmin? Kenapa?”
Gurat wajah Pak Karmin mulai memperlihatkan mimik yang ganjil.
”Sudahlah, Le. Sudah. Percayalah saja denganku. Ayo kita ke sanggar.”ajak Pak Karmin setengah memaksaku.
Aku mulai meresapi gejolak sanubari yang meretas bebas dan mekar berhamburan di persimpangan logika. Mengingat kesakralan malam ini, aku tak mungkin pergi ke sanggar ! Apalagi keberadaan kuncinya saja masih belum jelas. Tapi mengapa Pak Karmin begitu ingin mengajakku ke sana? Ada apa sebenarnya? Pikiranku kembali terpagut pada kotak pemberian bapak. Mungkin benda ini yang akan menyelamatkanku dari marabahaya laut Pancer Etan. Aku menuruti ajakan Pak Karmin. Lagipula, aku juga ingin mengetahui sesuatu yang sebetulnya terjadi.
Akhirnya, aku beranjak keluar dari rumahku yang kecil terpencil. Lingkunganku dilingkupi rerimbunan pohon raksasa yang berdiri gagah. Semuanya terpagari oleh dinding bukit dan sungai yang bermuara langsung dengan bibir samudra. Sedangkan permukiman warga terletak jauh di ujung sana. Hanya ada segelintir tetangga di samping rumahku.
Banyak orang berkisah bahwa tempat tinggalku sangat keramat. Sering kali aku melihat ambulan melintas di depan rumahku. Mereka berlalu lalang membawa mayat yang dianggap korban Ratu Pantai Selatan. Pun Pak Karmin juga pernah bercerita, Pancer Etan adalah tempat bersemayamnya para jin dari kerajaan Ratu Pantai Selatan. Suatu mitos yang lekat dan tumbuh di tempat tinggalku.
Kulihat dari jalan setapak ini, di tepi laut itu, para nelayan sedang pergi nglarung. Menurut kepercayaan warga pesisir pantai ini, mereka harus menghanyutkan sesajen ke laut sebelum berlayar. Tak lain demi keselamatan mereka. Terlebih malam ini adalah Selasa Kliwon. Aku pun bergumam, apakah kotak ini amat berkaitan erat dengan hal itu. Setahuku, bapak tidak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Bapakku hanyalah seorang menantu guru kerawitan yang diwarisi beberapa buah gamelan.
***
Sejenak, aku menghela napas. Derap pijakku telah menginjak beranda sanggar kerawitan Laskar Setro Ketipo.
”Pak, jika irama gamelan itu sudah terdengar lagi, aku sangat ingin menjadi penabuh bonang seperti bapak. Sebab iramanya sangat apik”
” Kamu itu mirip bapakmu, Le. Selalu ingin tahu dan selalu ingin bisa. Asal kamu tahu saja, Le. Irama bonang itu ndak hanya kempyongan thok. Nanti pasti ada genjotan. Setelah itu, berkembang menjadi sekaran. Contohnya begini.
Pi..lu..pi..lu..nem..ji..ro..ji..nem..ma..lu..pi..ji..ro..lu ” ujar Pak Karmin bersemangat.
Bila Pak Karmin melantunkan irama bonang itu, aku termangu sendu. Aku teringat akan wejangan Sunan Bonang yang bapak ajarkan padaku. Bapak berusaha melekatkan memoriku pada perjuangan Sunan Bonang saat menyiarkan syariat Islam melalui syair tetembangan Jawa dalam kesenian gamelan ini. Sanubariku gundah gulana kembali. Selalu dan selalu teringat bapak. Bulir – bulir ingatan itu kian berkelindan membayangiku.
Aku dan Pak Karmin masih terus menyusuri sanggar bapak yang beberapa bulan ini telah terbengkalai. Menjatuhkan tiap derap langkahku dalam remang sinar bulan. Pak Karmin tertinggal satu langkah di belakangku.
Nuansa mistis mulai menelikung batinku. Indra pendengaranku seperti terpaku pada suara-suara ghaib. Seakan bunyi bonang dan wejangan itu terus mencecar dari kotak pemberian bapak. Mataku terpejam. Rasa penasaranku berdentum. Memberikanku pertanda agar lekas mengetahui isinya. Perlahan dengan tangan gemetar, kucoba membukanya melalui celah dari salah satu sisi. Aku tak mau berpaling dari isi kotak itu. Benda yang singgah di dalamnya, belum pernah kujumpa. Asing…asing sekali! Bertengger di dalamnya, kunci dan secarik kertas bertuliskan sesuatu. Pesan tersurat yang dituliskan secara tersirat.
”Assalamualaikum Darma, anakku. Aku menyertakan kunci sanggar di dalam kotak ini. Jagalah dengan hati – hati. Peliharalah sanggar itu baik-baik. Sebaiknya kau tahu. Dulu, Pak Karmin adalah adik seperguruanku. Dia selalu menginginkan kotak pemberian guruku ini yang dianggapnya bertuah. Padahal tidak, kotak ini hanyalah berisi beberapa lafal doa dan wejangan di balik kertas ini yang membuat seseorang bisa menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Wassalamualaikum !”
Malam kian terasa mencekam. Hitam suram. Nyanyian alam bergema muram. Seram menghujam tajam. Saat aku mencermati pesan ini, tiba-tiba saja, aku merasakan ada seseorang yang mengendap-endap di belakangku. Seketika wajahku pucat pasi. Hawa dingin kian menyeruak, menghentak ragaku. Suasana yang tak wajar ini terus mengglayuti pikiranku. Langkahku terhenti. Aku melirik ke belakang. Aku terhenyak !
”Hyaat….! Mampus kau !”
”Argh..Pak…Kar…min….ada…apa…ini…kau..bisa..membunuh….ku ! ”
”Kalau benar, memangnya kenapa ! Sedari dulu, kau seharusnya sudah kubunuh. Layaknya aku menghabisi nyawa Sarjono, keparat itu!”
Mataku terbelalak. Perasaanku laksana tercambuk api neraka. Aku berusaha menahan napas, menjauhkan jerat kain kafannya dari leherku.
”Jadi, kau yang telah membunuh bapakku ?”
”Hahaha..! Siapa lagi kalau bukan aku, ha?”
“Mengapa Pak ? Mengapa kau lakukan hal ini pada bapak ?”tanyaku berontak.
“Asal kau tahu, bapakmu memang kakak seperguruanku. Tapi itu dulu ! Sebelum kakekmu-guruku berlaku tak adil. Dia lebih memercayakan kotak bertuah itu kepada bapakmu. Lalu dia lebih memilih bapakmu untuk dinikahkan dengan ibumu, padahal aku juga mencintainya hingga sekarang. Setelah itu ia wariskan seluruh perangkat gamelannya kepada bapakmu. Aku benci ketidakadilan ini. Kini, kau akan menjadi pewaris tunggal kekayaan bapakmu. Beginikah kehidupan yang adil bagiku ? Sekarang, serahkan kotak itu beserta seluruh isinya padaku! Agar aku bisa menjualnya dan jadi kaya raya. Cepat serahkan!”
“Tidak akan! Sampai kapanpun aku takkan menyerahkannya!”
“Jika tidak, nasibmu akan sama dengan nasib bapakmu. Mati di tanganku malam ini juga !”
Jerat kain kafan itu semakin melilit leherku, membelit nadiku. Kusadari aku nyaris mati !
”Baiklah, kau boleh ambil semua yang kau mau. Tapi dengan satu syarat, kau harus melepaskanku.dan membiarkan aku hidup!”
“Kali ini kau akan kulepaskan. Lagipula aku tidak membutuhkanmu lagi. Sudah! Pergi dari sini!”ujarnya dengan merebut kotak pemberian bapak.
Aku terhuyung meninggalkan sanggar. Serasa berat kutinggalkan manusia picik itu. Aku benar-benar naik pitam tapi tubuhku tak berdaya. Kunci sanggar, wejangan Sunan Bonang dan surat hak milik Laskar Setro Ketipo kini erat pada genggamannya. Merenggut nyawa bapak dengan kejam! Begitulah Pak Karmin menyembunyikan tabiat busuknya di balik kekuatan mitos Ratu Pantai Selatan. Menyalahgunakannya demi kekayaan semata.
Namun belum seberapa jauh kakiku melangkah, kudengar teriakan suara seseorang. Aku membalikkan badan. Mendekati suara itu diam-diam. Ternyata Pak Karmin! Kulihat dia menutup telinganya rapat-rapat. Tubuhnya berkelindan. Sekonyong-konyong ia terjerembab di beranda sanggar. Jidatnya membentur lantai. Berguling-guling seraya berteriak lengking.
”Sarjono, Sarjono! Darma, Darma! Aku minta maaf ! Aku tak berhak atas wasiat sanggar ini ! Aku mohon ampun, Guru! Ampun Guru, ampun! ”
Tiba-tiba, ia menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa.
”Ampun, Le! Aku memang tidak berhak akan semua warisan dari bapakmu. Aku benar-benar tak tahan dengan semua ini. Aku memang salah! Aku minta maaf, Le. Aku menyesal telah membunuh bapakmu. Kukembalikan seluruh isi kotak ini. Aku berjanji tak akan mengganggumu lagi. Aku tidak mengharuskan kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau paham tentang nasibku. Terserah padamu, ingin menghukumku dengan cara apapun.” ungkapnya menangis tersedu-sedu sembari bersimpuh sujud di telapak kakiku.




